Network of Learning Centers (NLC) by Equator menuntaskan pelatihan Environmental and Social Impact and Risk Assessment (ESIA) Batch IV pada 27–31 Juli 2026. Program daring lima hari ini diikuti 30 peserta dengan total 46 jam pelajaran yang terbagi ke dalam 17 sesi, dan menandai lampaunya angka 100 alumni sejak program pelatihan ESIA NLC bergulir.
Porsi terbesar — 15 jam pelajaran, atau hampir sepertiga dari keseluruhan program — dialokasikan untuk ESIA Case Study Exercise. Pada sesi ini peserta membedah dokumen ESIA dari sejumlah proyek di Indonesia, sehingga pembahasan tidak berhenti pada konsep melainkan masuk ke penerapannya di lapangan.
Metode itu meninggalkan kesan tersendiri bagi peserta. "Pelatihan ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Di sini kita diajak untuk mandiri, self-learning, di luar materi yang disampaikan," kata Dini Ayu Lestari, peserta dari PT KHN yang mengikuti pelatihan dari Malinau, Kalimantan Utara. "Homework, activity work, dan case study yang diberikan itu benar-benar membantu kita belajar mandiri — atau dipaksa belajar pada awalnya — sehingga kita bisa menguasai materi yang sebelumnya sedikit asing."
Materi pelatihan menggabungkan sepuluh standar lingkungan dan sosial dari dua kerangka internasional. Sembilan di antaranya berasal dari Environmental and Social Framework (ESF) Bank Dunia, mencakup ESS1 hingga ESS8 serta ESS10. Adapun materi perubahan iklim mengacu pada ESS9 dalam kerangka Asian Development Bank (ADB), karena ESF Bank Dunia tidak memiliki standar khusus untuk isu tersebut. Peserta juga memperoleh pengenalan kerangka ESF milik ADB dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).
Pembelajaran diperkuat melalui latihan berbasis kasus yang mencakup penilaian pengadaan tanah, perlindungan masyarakat adat, klasifikasi habitat, hingga penyusunan komponen utama dokumen ESIA. Sebagai pengganti kunjungan lapangan, peserta mengikuti virtual site visit ke proyek Upper Cisokan Pumped Storage untuk mengamati kondisi lapangan, potensi dampak, serta langkah mitigasi yang diterapkan.
Narasumber pelatihan berasal dari kalangan praktisi, akademisi, dan perwakilan lembaga pembiayaan internasional, termasuk ADB, AIIB, dan Indonesia Infrastructure Finance (IIF). Mereka membawakan materi sesuai bidang keahlian masing-masing, mulai dari tahapan penyusunan ESIA, pengelolaan dampak lingkungan dan sosial, perubahan iklim, keanekaragaman hayati, masyarakat adat, kesehatan dan keselamatan, hingga pelibatan pemangku kepentingan.
Dalam sesi penutupan, sejumlah narasumber menggarisbawahi karakter mendasar ESIA. Arifien Sutrisno menekankan sifat ESIA sebagai living document yang terus diperbarui selama proyek berjalan, sehingga temuan di tengah pelaksanaan perlu didiskusikan dan dituangkan sebagai perbaikan dokumen. Bambang Purwono menyoroti pentingnya membedakan risiko dari dampak saat menyusun kriteria penilaian. "Risiko itu seberapa besar peluang terjadinya. Kalau dampak, jelas akan terjadi," ujarnya.
Panitia juga mengumumkan 15 peserta paling aktif yang dinilai dari kehadiran tepat waktu, keaktifan di kamera dan diskusi, kecepatan serta ketepatan menjawab kuis, dan penyelesaian seluruh tugas. Peserta juga diminta mengisi formulir evaluasi program.
Mewakili peserta, A. Mukhlisin Rony menyampaikan apresiasi atas intensitas program sekaligus mengusulkan agar jejaring yang terbentuk dipertahankan. "Grup ini jangan ditutup. Dijadikan ajang untuk saling bertukar informasi, saling menguatkan, sekaligus untuk networking," katanya. Ia juga menyebut pelatihan ini sebagai titik awal, bukan akhir, dari agenda penguatan kapasitas ESIA.
Terkait sertifikat, panitia menjelaskan bahwa peserta yang menuntaskan final assessment dan dinyatakan lulus akan menerima sertifikat kelulusan, sementara peserta lain menerima sertifikat keikutsertaan. Peserta yang belum lulus akan diberi kesempatan mengikuti remedial.
Ketua NLC Rimun Wibowo menutup pelatihan dengan memaparkan rencana pengembangan program. Metode pembelajaran dua arah yang dipakai pada Batch IV, kata dia, merupakan hasil adaptasi dari pelatihan yang ia ikuti di Sydney. "Saya tidak ingin yang saya dapatkan itu hanya ada di kepala saya, hanya ada di ingatan saya," ujarnya, menjelaskan alasan metode tersebut segera dibagikan kepada tim narasumber untuk diolah bersama.
Ke depan, NLC menyiapkan sistem e-learning sebagai prasyarat mengikuti sesi tatap muka daring, membuka pelatihan tingkat lanjut dan bidang lain seperti LARAP, serta mempertimbangkan format hibrida. Sasaran jangka panjangnya, menurut Rimun, adalah mengembangkan NLC menjadi akademi khusus bidang environmental and social safeguard di Indonesia.
Bagi Rimun, target itu bermuara pada regenerasi. Ia berharap peserta pelatihan pada gilirannya bisa menjadi narasumber — sebagaimana Putri Yasmin, alumni angkatan awal yang kini memimpin tim di sejumlah proyek ESIA sekaligus mengisi materi pelatihan. "Ini tetap harus kita pick up dengan yang muda-muda, sehingga jangan sampai ada kesenjangan kontinuitas dari para pakar ini di Indonesia," ujarnya.
Tag